Hijrah Menuju Allah dan Rasulnya
Hijrah Menuju Allah dan
Rasulnya
Adalah suatu hal yang
gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan
penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah
tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.
Orang yang merendahkan
diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan
larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan
apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang
membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan
anggota badan. Inilah hakikat keimanan. Aqiqah Karawang
Iman dan Islam
Sebagaimana diterangkan
oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna
sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan
lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu
konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah
mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya
agama di sisi Allah hanya Islam.” (Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di
sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang
diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan
kafir dan bukan munafik.
Dengan demikian ayat yang
sering kita dengar ketika khutbah Jum’at (yang artinya), “Dan janganlah
kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102)
mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk
masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam
al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa
maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan
beriman’
Iman juga tidak cukup
hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah
iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi
hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan
dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah
yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam
hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan
ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik
keimanan yang benar.
Hijrah kepada Allah dan
Rasul-Nya
Iman itu sendiri tidak
akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya.
Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap
individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati
seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul
Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup
hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju
kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju
penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain
Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan
tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang
disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah)
sebagaimana diperintahkan dalam ayat (yang artinya), “Maka berlarilah
kalian menuju Allah.” (adz-Dzariyat : 50)
Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang. Aqiqah Karawang
Urgensi Belajar Agama
Kaum muslimin yang
dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada
Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami
agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan,
antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan
kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan
niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Sungguh benar ucapan Imam
Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Manusia jauh lebih
membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman
dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak
hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan
minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh
lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu
dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari
kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang
yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat
Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara
orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari).

Komentar
Posting Komentar